Halo blog..apa kabar?
Sekarang aku udah semester 6. Sebentar lagi semester 7 dan lulus InsyaAllah. Lupa kapan terakhir kali nulis sekalinya nulis langsung stag gini. Well, aku sedang mencoba menulis lagi karena ada yang bilang kalau menulis itu salah satu terapi kejiwaan. Bukannya aku ada sakit jiwa atau apa. Tapi mungkin memang ada. Entahlah..
Menurutku semakin kita lama hidup, seharusnya semakin banyak pula pertanyaan-pertanyaan yang akan muncul tentang makna kehidupan dan kita yang berada di dalamnya. Aku sih merasa seperti itu. Menurut Islam agama yang aku anut pada hakikatnya manusia diciptakan oleh Allah adalah untuk menjadi khilafah di muka bumi. Pertanyaannya adalah khilafah yang seperti apa? Aku sudah berusia 20 tahun dan sampai sekarang aku masih merasa bingung dengan apa yang harus aku lakukan untuk hidupku nanti. What a shamed life. Having a life is such a blessing thing. Dengan sikapku yang seperti ini sepertinya aku kurang bersyukur dengan kehidupan yang aku miliki. Orang yang tidak memiliki visi akan kehidupannya nanti sama halnya orang yang tidak memiliki tujuan. Tentu tujuan setiap orang, bahkan penjahat sekalipun, ingin masuk surga. Hanya saja tidak semua orang memiliki gambaran yang jelas tentang apa yang akan ia lakukan selama hidupnya. Perubahan apa yang ia inginkan untuk hidupnya dan orang-orang disekitarnya. Terlambatkah aku untuk menemukan tujuan hidup di dunia ini? Sisi optimistikku mengatakan tentu belum terlambat dalam usiamu yang masih muda ini untuk menentukan tujuan hidupnya. Hanya saja kau perlu waktu cepat untuk menemukan hal itu. Melihat kenyataan ada beberapa orang disekitarku, tapi kebanyakan masih seperti aku yang galau tak menentu atau diam-diam mereka sudah merencanakan suatu hal luar biasa dalam kepalanya (aku juga ga tau), telah menemukan visi hidup mereka sendiri-sendiri. Dan menurutku itu keren. Ada orang yang terlahir dengan segala kemampuan dan anugrah yang diberikan Allah sehingga ia bisa menjadi begitu menonjol, namun ada pula orang yang dilahirkan dengan biasa-biasa saja, atau setidaknya mereka masih mencari keluarbiasaan apa yang ia miliki. Tipe kedua tentu saja aku. Lagi-lagi aku tidak berusaha menyalahkan keadaan. Karena menurutku itu sama saja menyalahkan Tuhan yang telah denga luar biasa menciptakan kita manusia. Untuk kali ini aku memilih untuk menyalahkan diriku sendiri yang belum mencoba semaksimal mungkin untuk merubah keadaan dan mensyukuri nikmat-Nya.
Aku mulai berfikir mungkin selama ini aku terlalu terbuai dan nyaman dengan keadaan sekitarku. Pernah mendengar istilah ini? Terlalu banyak tertawa bisa mematikan rasa. Itu nasehat temanku waktu SMA dulu. Tentu aku tidak bermaksud menyalahkan siapapun. Terutama teman-temanku yang selama ini membuat hidupku bahagia. Atau drama-drama tipu-tipu yang sering aku tonton untuk sekedar melepas penat. Tapi tidak semua drama itu sampah. Aku selalu berusaha mengambil pelajaran-pelajaran yang terdapat didalamnya. Yang perlu dipahami dan tidak boleh dilupakan adalah bahwa film atau drama itu ya hanya drama. Not meant to be something so real. Film yang kita tonton telah memiliki skenarionya sendiri dan mungkin akan berakhir sesuai dengan permintaan pasar agar rating acaranya tidak buruk. Menurutku, terkadang aku terlalu over dalam menyikapi keadaan disekitarku. Bisa over dalam melakukan sesuatu atau over dalam tidak melakukan sesuatu.
"Aku masih mencoba memaknai hidupku, dan mencoba membuat hidupku lebih bermakna."
Pernah aku membicarakan hal ini pada beberapa temanku. Namun mereka bilang selow aja lah. Tapi masih saja aku tidak bisa bersikap seperti itu. Masih ada yang hilang dan aku harus temukan. Satu keyakinan yang selalu aku pegang, Allah tidak menciptakan apapun dengan kesia-siaan. Bahkan babi sekalipun yang notabene haram. Masa'iya aku mau disamain sama babi.
Aku senang membaca atau megumpulkan kata-kata yang menurutku indah dan memotivasi. Walaupun pada akhirnya aku belum bisa menjalankan petuah-petuah itu. Bagi sebagian orang, kegiatanku tersebut tidak bermakna dan hanya bualan semata. Hampir-hampir aku percaya. Tapi semalam, ketika menonton acara Mario Teguh Golden Ways beliau mengingatkan kembali bahwa orang-orang yang meremehkan hal seperti itu adalah orang-orang kelewatan. Mereka yang merendahkan dengan bilang bahwa itu hanya kata-kata maka sebenarnya Al-Quran itupun kalam Allah dimana kalam jika digunakan untuk bahasa manusia berarti kata-kata. Intinya, orang-orang sukses yang menelurkan kata-kata mutiara penuh makna itu bukan tanpa fikiran atau dengan cara yang serampangan. Walau hanya satu kalimat terdiri dari beberapa kata saja, mereka telah melalui banyak hal untuk menemukan kata-kata itu.
Satu hal yang jelas sudah aku temukan: Aku tidak mau hidup dalam kesia-siaan. Tidak memiliki tujuan dalam hidup berarti suatu kesia-siaan. Tidak mampu merubah diri sendiri berarti kesia-siaan. TIdak melakukan apapun berarti kesia-siaan. Dan aku tidak ingin menjadi orang yang penuh dengan kesia-siaan.
Oh iya akhir-akhir ini aku baru sadar betapa aku sangat beruntung bisa kuliah di tempat ini dan dengan jurusan yang konon kabarnya memiliki passing grade yang tinggi. Tapi aku baru sadar sekarang. Semoga aku masih punya waktu untuk mensyukuri ini dengan belajar lebih lagi. Amin...
Postingan ini adalah hasil perasaan random yang telah menahun dan didorong oleh blog ini http://nurulisme.wordpress.com/ yang mampu menyentil jari-jari ini untuk menulis. Terima kasih..:)